| Foto bersama kegiatan Bacarita Kampung di Kampoeng Melanesia |
Ternate, SI - Masa bhakti Gubernur Maluku Utara yang sebentar lagi akan berakhir ternyata mendapat perhatian dari salah satu media cetak lokal ternama yakni Malut Post, yang kemudian bekerja sama dengan penggagas kampoeng Melanesia untuk menyelenggarakan diskusi terbuka.
Diskusi dengan Tema Bacarita Kampung dan mengangkat sub tema Malut Mencari Pemimpin 2018 tersebut dilaksanakan pada Kampoeng Melanesia yang berlokasi di Kelurahan Gambesi, Ternate Selatan, Senin sore 27 Maret 2017 menghadirkan sejumlah tokoh penting dilingkup pemerintah Provinsi, Politikus, Akademisi, Organisasi Pemuda, hingga pihak pengawas penyelenggara politik dalam hal ini Bawaslu Maluku Utara sebagai pemateri.
Salah satu tokoh politik yang pernah bertarung bersama Gubernur Maluku Utara 5 tahun lalu sebagai calon Wakil Gubernur, Malik Ibrahim dalam ajang diskusi tersebut mengatakan bahwa Provinsi Maluku Utara dalam ajang pertarungan politik dari tahun-tahun sebelumnya masih jauh dari harapan untuk menuju keberhasilan. Hal tersebut di dasari oleh masih terdapat masalah yang menjadi momok di Provinsi Maluku Utara yang hingga kini belum dapat terselesaikan dengan tuntas.
"Bahwa kepastian masa depan masyarakat Maluku Utara sangat rendah. Dibuktikan dengan tidak mampunya Gubernur membawa masyarakat keluar dari berbagai masalah seperti Pengangguran, Kemiskinan dan mahalnya pendidikan" Ucap Malik.
Lanjut Malik, dirinya menambahkan bahwa Partai Politik dalam memilih dan menentukan dukungan terhadap Pasangan Calon untuk di usung hanya mengandalkan kemampuan Finansial Paslon tersebut, sehingga pada ahirnya menghasilkan pemimpin yang tidak mempunyai kemampuan mengelola wilayah Maluku Utara.
Lanjut Malik, dirinya menambahkan bahwa Partai Politik dalam memilih dan menentukan dukungan terhadap Pasangan Calon untuk di usung hanya mengandalkan kemampuan Finansial Paslon tersebut, sehingga pada ahirnya menghasilkan pemimpin yang tidak mempunyai kemampuan mengelola wilayah Maluku Utara.
Senada dengan Malik Ibrahim, Akademisi Universitas Muhammadiyah Maluku Utara Dr. Herman Oesman pun menanggapi persoalan tersebut. Dirinya menambahkan terkait dengan belum adanya kesadaran dalam menciptakan politik bersih sehingga permasalahan politik kian tidak bisa dihindari. "Masyarakat Maluku Utara telah tersandra dengan Partai Politik yang mengedepankan calon berduit. Padahal masih banyak orang-orang terbaik dan Pandai yang bisa mengelola kekurangan Maluku Utara ketimbang mendukung Figur-figur yang korup dan hanya mementingkan Partai Politik" Tegas Herman.
Diskusi yang dihadiri Muksin Amrin dari Badan Pengawas Pemilu Provinsi Maluku Utara juga menjelaskan daerah-daerah yang berdasarkan data mereka rentan dengan terjadinya persoalan politik.
"Sesuai data Bawaslu Maluku Utara, bahwa Kabupaten Pulau Morotai, Halmahera Tengah dan Kepulauan Sula adalah merupakan daerah-daerah yang sangat rentan terjadi Politik Uang dan mempunyai Potensi Mobilisasi massa dengan sasaran para Mahasiswa yang kuliah di luar Daerah" kata muksin.
Selain itu, Kepala Badan Kesatuan Bangsa, Politik dan Perlindungan Masyarakat Provinsi Maluku Utara Omar Fauji juga turut menggambarkan dampak dari adanya politik yang tidak sehat terhadap kehidupan bermasyarakat, sehingga menimbulkan perpecahan kecil di masyarakat yang di akibatkan perbedaan pilihan Politik. (Mdex)